Syair -Rasa-
Kalau kamu tahu, hanya kamulah yang tidak sanggup kulukiskan kata-kata
Bukan karena kamu tidak menginspirasiku
Semua itu tidak bisa diungkap dengan kata,
Walaupun Sang Pencipta mencipta ratusan juta makna di dunia
Dengan air, udara, sinar, gemerisik dedaunan bahkan dengan suara
Namun semua itu tak mampu menerjemahkan rasaku untukmu
Adakah makna yang lebih tinggi dari cinta
Lebih dalam dari sayang
Lebih mengikat dari rindu
Bila ada itulah yg ingin kusampaikan padamu dalam detik yg berputar
Dalam langkah yg melaju,
Dalam darah yang berdesir,
Dalam nafas yang hanya mampu menyebut namamu
Untukmu aku bersabar
Untukmu aku berdoa
Untukmu aku ingin terus ada
Dan jangan pernah bertanya ketika kamu pupus
Maka aku menghilang
Aku Tidak Mau
Aku tidak berani berjanji akan selalu di sampingmu
aku juga tidak mau kamu berjanji selalu di sisiku
aku tidak mau banyak berucap betapa aku mencintaimu
aku juga tidak butuh kata-kata manis tentang cinta darimu
aku bukan anak remaja yang senang di rayu dan tergila-gila dengan cinta
aku tidak tahu bagaimana cara mencintaimu
tapi apakah cukup bila aku selalu berdoa untukmu
hanya itu caraku menunjukkan aku mencintaimu
ruang hati yang berbeda
aku mendapatkan penggantimu
kering sudah air mata yg mengalir di pipi ku
kini aku bahagia
aku memang menyesali perpisahan kita
tapi terpuruk bukanlah pilihan yg harus kupilih
aku bahagia bersama dia,
meski bahagia itu teramat sangat singkat
aku mencintainya.
seperti aku mencintai kamu
tapi di ruang hati yang berbeda
need & do not
aku ga butuh alasan untuk sedih
aku ga butuh alasan untuk gembira
aku ga butuh alasan untuk menangis
aku ga butuh alasan untuk tersenyum
terkadang aku ga butuh aleaan untuk membenci
dan seringkali aku ga butuh alasan untuk mencintai
tapi aku butuh alasan untuk hidup
KAMU
sendiri
bukan aku tidak mau bersyukur,,
aku hanya takut,,
takut aku tidak bisa menjaga apa yang Kau titipkan padaku,,
takut mengecewakan mereka yang mencintaiku,,
tapi Kau tetap menundanya,,
padahal aku meminta sejak aku belum mengerti semua ini,,
tidakkah Kau pahami ketakutanku,,
kemudian Kau kirimkan seseorang,,
tapi bukan untuk menggenapi hidupku yang kurang,,
hanya sekedar mampir,,
lalu pergi dengan membawa luka yang aku berikan padanya,,
aku tidak paham, katanya,,
justru aku sangat paham makanya aku melepaskannya,,
aku sangat memahaminya 10 x bahkan 100x dari apa yang dia pahami,,
bahwa keadaannya tidaklah normal,,
akan ada yang tersakiti,,
itu pasti,,
mereka yang menyayangiku,,
atau mereka yang mencintainya,,
atau dia sendiri,,
dan yang paling pasti adalah aku,,
karena aku harus menyaksikan semua orang bersedih karena aku,,
di mana Engkau ya Allah,,
apakah Engkau benar-benar melepasku sendirian??
Oleh: ‘Nda untuk kamu duniaku, cahayaku, inspirasi hidupku.
Rabu, 29 Februari 2012
Mahabbah
Aku adalah hamba Allah, cintaku kepada langit tak berarti aku tak menginjak bumi.
Justru langit mengajarkanku dengan hujan yang membasahi bumi dan menumbuhkan benih yang beristirahat dalam gelap.
Cinta kepada Allah selalu menghadiahkan dua hal pada hamba, yaitu lidah dan airmata.
Yang dengan itu beruntung dapat menyampaikan kata demi kata dalam Kitab Suci,
dan airmata bagiku untuk tersungkur takut dalam tahajjudku dan mengingat matiku yang mungkin akan tiba sebentar lagi.( By. Ustd Felix Siauw )
Justru langit mengajarkanku dengan hujan yang membasahi bumi dan menumbuhkan benih yang beristirahat dalam gelap.
Cinta kepada Allah selalu menghadiahkan dua hal pada hamba, yaitu lidah dan airmata.
Yang dengan itu beruntung dapat menyampaikan kata demi kata dalam Kitab Suci,
dan airmata bagiku untuk tersungkur takut dalam tahajjudku dan mengingat matiku yang mungkin akan tiba sebentar lagi.( By. Ustd Felix Siauw )
Senin, 27 Februari 2012
D & D
Dear God . . .
Kau berikan tetesan cinta kasih Mu kepadaku..
Dan telah memenuhi seluruh ruang hatiku
Kau bingkai hidupku dengan Rahman dan Rahim Mu,,
Dan Tuhan..
Sedikit sekali yang telah ku dekap,
Tetapi aku telah mabuk oleh Cinta Mu yang Suci itu...
Bagaimana kiranya aku dapat mensyukuri nikmat Mu,,
Dan nikmat Mu yang manakah yang dapat dipersekutukan...
Maka Tuhan berikan hamba kekuatan dari Mu..
Untuk mengarungi keagungan dari Mu dalam hamparan hidupku...
Kau berikan tetesan cinta kasih Mu kepadaku..
Dan telah memenuhi seluruh ruang hatiku
Kau bingkai hidupku dengan Rahman dan Rahim Mu,,
Dan Tuhan..
Sedikit sekali yang telah ku dekap,
Tetapi aku telah mabuk oleh Cinta Mu yang Suci itu...
Bagaimana kiranya aku dapat mensyukuri nikmat Mu,,
Dan nikmat Mu yang manakah yang dapat dipersekutukan...
Maka Tuhan berikan hamba kekuatan dari Mu..
Untuk mengarungi keagungan dari Mu dalam hamparan hidupku...
Selasa, 21 Februari 2012
Faridhah Ghaibah
Pemikiran dan Keyakinan
Faridhah Ghaibah
Bahwa jihad adalah perang, senjata dan darah. Adapun pemahaman jihad pada sarana-sarana damai seperti dakwah, dialog, tulisan, khutbah, pemikiran, ilmu dan sebagainya maka ia termasuk kepicikan dan ketakutan. Kaum muslimin tidak akan menang kecuali dengan kekuatan senjata dan mereka harus masuk ke medan perang berapa pun kekuatan mereka.
Pendapat ini menyempitkan makna jihad, karena perang hanya sebagian dari jihad. Jihad terpuji dalam kondisi apa pun, sedangkan perang hanya terpuji dalam kondisi tertentu. Allah tidak menamakan perang antara orang-orang mukmin dengan jihad, akan tetapi perang dan hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak melulu berisi perang, sebaliknya beliau berjihad dengan lisan melalui nasihat dan khutbah, sebagaimana beliau juga menggunakan pena melalui surat-surat yang beliau kirimkan kepada para penguasa di zamannya.
Kelompok-kelompok yang membawa nama Islam namun menolak berpegang kepada syariat Islam, mereka harus diperangi sehingga mereka mau berpegang, termasuk memerangi pihak-pihak yang mendukung mereka dari kalangan penguasa dan yang sepertinya.
Perang tidak hanya melawan musuh yang menyerang dan masuk ke wilayah kaum muslimin semata, akan tetapi melawan siapa pun yang menghadang dakwah dengan pedang dan menolak membiarkan kami untuk mengajak manusia ke jalan Allah dan menerapkan hukum Allah, penjajah adalah musuh yang jauh, sedangkan musuh yang dekat adalah para penguasa kafir, yang kedua lebih layak diperangi daripada yang pertama.
Memandang masyarakat Mesir dan yang sepertinya bukan darus silmi yang berlaku padanya hukum-hukum Islam karena penduduknya kaum muslimin, tidak pula darul harbi di mana penduduknya adalah orang-orang kafir, akan tetapi ia adalah bagian ketiga di mana kaum muslimin padanya diperlakukan sesuai dengan apa yang berhak atasnya, orang yang keluar dari syariat Islam diperangi, dari sini mereka tidak mengkafirkan masyarakat muslim secara umum, akan tetapi para penguasa yang meliburkan syariat Islam.
Mewajibkan amar ma’ruf dan nahi mungkar atas setiap anggota masyarakat dengan tiga tingkatannya, dengan tangan, lisan dan hati, namun dalam penampakannya mereka sering tidak mengacu kepada asas memperhatikan kemaslahatan dan menolak kemudhratan.
Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.
Faridhah Ghaibah
Bahwa jihad adalah perang, senjata dan darah. Adapun pemahaman jihad pada sarana-sarana damai seperti dakwah, dialog, tulisan, khutbah, pemikiran, ilmu dan sebagainya maka ia termasuk kepicikan dan ketakutan. Kaum muslimin tidak akan menang kecuali dengan kekuatan senjata dan mereka harus masuk ke medan perang berapa pun kekuatan mereka.
Pendapat ini menyempitkan makna jihad, karena perang hanya sebagian dari jihad. Jihad terpuji dalam kondisi apa pun, sedangkan perang hanya terpuji dalam kondisi tertentu. Allah tidak menamakan perang antara orang-orang mukmin dengan jihad, akan tetapi perang dan hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak melulu berisi perang, sebaliknya beliau berjihad dengan lisan melalui nasihat dan khutbah, sebagaimana beliau juga menggunakan pena melalui surat-surat yang beliau kirimkan kepada para penguasa di zamannya.
Kelompok-kelompok yang membawa nama Islam namun menolak berpegang kepada syariat Islam, mereka harus diperangi sehingga mereka mau berpegang, termasuk memerangi pihak-pihak yang mendukung mereka dari kalangan penguasa dan yang sepertinya.
Perang tidak hanya melawan musuh yang menyerang dan masuk ke wilayah kaum muslimin semata, akan tetapi melawan siapa pun yang menghadang dakwah dengan pedang dan menolak membiarkan kami untuk mengajak manusia ke jalan Allah dan menerapkan hukum Allah, penjajah adalah musuh yang jauh, sedangkan musuh yang dekat adalah para penguasa kafir, yang kedua lebih layak diperangi daripada yang pertama.
Memandang masyarakat Mesir dan yang sepertinya bukan darus silmi yang berlaku padanya hukum-hukum Islam karena penduduknya kaum muslimin, tidak pula darul harbi di mana penduduknya adalah orang-orang kafir, akan tetapi ia adalah bagian ketiga di mana kaum muslimin padanya diperlakukan sesuai dengan apa yang berhak atasnya, orang yang keluar dari syariat Islam diperangi, dari sini mereka tidak mengkafirkan masyarakat muslim secara umum, akan tetapi para penguasa yang meliburkan syariat Islam.
Mewajibkan amar ma’ruf dan nahi mungkar atas setiap anggota masyarakat dengan tiga tingkatannya, dengan tangan, lisan dan hati, namun dalam penampakannya mereka sering tidak mengacu kepada asas memperhatikan kemaslahatan dan menolak kemudhratan.
Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.
Tentang Perbankan Syariah
Umat Islam dan Permasalahan Perbankan Syariah
Sudah dimaklumi bahwa bank konvensional ribawi berkembang bersama datangnya para colonial. Kesamaan masa antara pendudukan colonial dengan berdirinya bank-bank ini di masyarakat islam membenarkan pendapat bahwa bank-bank tersebut dibangun dengan sengaja agar membantu penjajahan dengan menguasai perekonomiannya. Juga agar tertanam dihati masyarakat adanya ketidak sesuaian antara yang mereka yakini tentang pengharaman riba dengan realita yang mereka geluti yang tidak lepas dari riba. Demikian juga dibangun untuk menancapkan benih-benih keraguan tentang benar dan cocoknya syari’at islam di masa-masa kini.
Konsep pemikiran perbankan ini memang diimport dari non muslimin. Ini bisa dibuktikan dengan membaca dan menelaah kitab-kitab fikih klasik, seperti kitab al-Mughni karya imam ibnu Qudamah, Raudhat ath-Thalibin karya imam an-Nawawi dan kitab-kitab induk fikih lainnya. Jelas tidak didapatkan pembahasan mengenai perbankan atau bank dalam kitab-kitab tersebut. Akan tetapi kaum muslimin ketika melihat orang-orang non muslimin membangun perbankan dan perbankan tersebut mampu menunaikan pekerjaan dan khidmat untuk kebutuhan mendesak masyarakat umum maka mereka ingin memiliki yang seperti itu dan berusaha membuat alternatif yang sesuai syariat. Oleh karena itu diambillah konsep yang dibuat orang-orang non muslimin ini dan menjadikannya dalam bentuk islam.
Fenomena bahaya riba yang telah menimpa umat manusia dewasa ini ditambah kebutuhan yang mendesak dari masyarakat islam dan pemikiran merubah perbankan ribawi menjadi sesuai syariat. Akhirnya banyak orang yang berfikir untuk membangun bank-bank yang dibangun diatas system syari’at islam.
Mampukah perubahan tersebut terealisasikan?
Merubah wajah perbankan menjadi sesuai syariat dengan tetap mempertahankan fungsi dari perbankan tersebut, tentu saja merupakan tantangannya cukup berat. Bagaimana tidak? Disatu sisi harus menggantikan fungsi perbankan tersebut dan disisi lain tidak boleh melanggar syariat.
Dari sini idealnya perbankan syariat syari’at harus mampu menunaikan hal-hal berikut ini:
1. Bank syari’at harus mampu menunaikan semua fungsi yang telah dilakukan bank-bank ribawi berupa pembiayaan (Financing), memperlancar dan mempermudah urusan muamalaat, menarik dana-dana tabungan masyarakat, kliring dan transfer, masalah moneter dan sejenisnya dari praktek-praktek perbankan lainnya.
2. Bank syari’at harus komitmen dengan hukum-hukum syari’at disertai kemampuan menunaikan tuntutan zaman dari sisi pengembangan ekonomi dalam semua aspeknya.
3. Bank syari’at harus komitmen dengan asas dan prinsip dasar ekonomi yang benar yang sesuai dengan ideologi dan kaedah syari'at islam dan jangan sekedar menggunakan dasar-dasar teori ekonomi umum keuangan yang tentunya dibangun diatas dasar mu'amalah ribawiyah.
Tiga perkara ini harus ditunaikan bank syari’at agar dapat berjalan seiring perkembangan zaman dengan semua fenomena dan problema kontemporernya.
Mampukah perbankan syariat menunaikan tugas ini?
Tentunya tergantung kepada para praktisi dan para pengawas syariatnya serta pemerintah untuk mengarahkan lembaga perbankan syariat memiliki karakter yang berbeda dengan perbankan konvensional. Suatu karakter yang dapat menunaikan tugas-tugas di atas.
Sudah dimaklumi bahwa bank konvensional ribawi berkembang bersama datangnya para colonial. Kesamaan masa antara pendudukan colonial dengan berdirinya bank-bank ini di masyarakat islam membenarkan pendapat bahwa bank-bank tersebut dibangun dengan sengaja agar membantu penjajahan dengan menguasai perekonomiannya. Juga agar tertanam dihati masyarakat adanya ketidak sesuaian antara yang mereka yakini tentang pengharaman riba dengan realita yang mereka geluti yang tidak lepas dari riba. Demikian juga dibangun untuk menancapkan benih-benih keraguan tentang benar dan cocoknya syari’at islam di masa-masa kini.
Konsep pemikiran perbankan ini memang diimport dari non muslimin. Ini bisa dibuktikan dengan membaca dan menelaah kitab-kitab fikih klasik, seperti kitab al-Mughni karya imam ibnu Qudamah, Raudhat ath-Thalibin karya imam an-Nawawi dan kitab-kitab induk fikih lainnya. Jelas tidak didapatkan pembahasan mengenai perbankan atau bank dalam kitab-kitab tersebut. Akan tetapi kaum muslimin ketika melihat orang-orang non muslimin membangun perbankan dan perbankan tersebut mampu menunaikan pekerjaan dan khidmat untuk kebutuhan mendesak masyarakat umum maka mereka ingin memiliki yang seperti itu dan berusaha membuat alternatif yang sesuai syariat. Oleh karena itu diambillah konsep yang dibuat orang-orang non muslimin ini dan menjadikannya dalam bentuk islam.
Fenomena bahaya riba yang telah menimpa umat manusia dewasa ini ditambah kebutuhan yang mendesak dari masyarakat islam dan pemikiran merubah perbankan ribawi menjadi sesuai syariat. Akhirnya banyak orang yang berfikir untuk membangun bank-bank yang dibangun diatas system syari’at islam.
Mampukah perubahan tersebut terealisasikan?
Merubah wajah perbankan menjadi sesuai syariat dengan tetap mempertahankan fungsi dari perbankan tersebut, tentu saja merupakan tantangannya cukup berat. Bagaimana tidak? Disatu sisi harus menggantikan fungsi perbankan tersebut dan disisi lain tidak boleh melanggar syariat.
Dari sini idealnya perbankan syariat syari’at harus mampu menunaikan hal-hal berikut ini:
1. Bank syari’at harus mampu menunaikan semua fungsi yang telah dilakukan bank-bank ribawi berupa pembiayaan (Financing), memperlancar dan mempermudah urusan muamalaat, menarik dana-dana tabungan masyarakat, kliring dan transfer, masalah moneter dan sejenisnya dari praktek-praktek perbankan lainnya.
2. Bank syari’at harus komitmen dengan hukum-hukum syari’at disertai kemampuan menunaikan tuntutan zaman dari sisi pengembangan ekonomi dalam semua aspeknya.
3. Bank syari’at harus komitmen dengan asas dan prinsip dasar ekonomi yang benar yang sesuai dengan ideologi dan kaedah syari'at islam dan jangan sekedar menggunakan dasar-dasar teori ekonomi umum keuangan yang tentunya dibangun diatas dasar mu'amalah ribawiyah.
Tiga perkara ini harus ditunaikan bank syari’at agar dapat berjalan seiring perkembangan zaman dengan semua fenomena dan problema kontemporernya.
Mampukah perbankan syariat menunaikan tugas ini?
Tentunya tergantung kepada para praktisi dan para pengawas syariatnya serta pemerintah untuk mengarahkan lembaga perbankan syariat memiliki karakter yang berbeda dengan perbankan konvensional. Suatu karakter yang dapat menunaikan tugas-tugas di atas.
DZUN NURAIN
Terbunuhnya Khalifah Rasyid Usman, Dzun Nurain
Fitnah pertama dan termasuk paling besar dalam sejarah Islam yaitu fitnah yang telah diberitakan oleh Rasulullah, yaitu terbunuhnya Khalifah Rasyid yang ketiga Usman bin Affan di tangan sekelompok penyeru kejahatan.
Fitnah ini diikuti dengan perpecahan kaum muslimin dan peperangan yang terjadi di antara mereka yang berakibat tertumpahnya darah yang tidak berdosa dari kedua belah pihak yang bertikai. Nabi telah memberitahukan bahwa terjadinya fitnah ini adalah salah satu tanda dekatnya Kiamat.
Dalam hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Tidak datang hari Kiamat sehingga dua golongan besar dari kaum muslimin saling berperang, korbannya besar dari kedua belah pihak. Seruan keduanya adalah satu.” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Sahabat yang mulia Umar bin al-Khatthab telah menyebutkan bahwa fitnah ini datang bertubi-tubi seperti ombak lautan. Sebagaimana dalam hadits Hudzaefah bin Yaman berkata, Kami berada di sisi Umar bin al-Khatthab. Umar berkata, “Siapa di antara kalian mengetahui hadits Nabi tentang fitnah?” Hudzaefah menjawab, “Saya menghafalnya seperti yang telah beliau sabdakan.” Umar berkata, “Katakanlah, sesungguhnya kamu adalah orang pemberani. Apa yang Nabi sabdakan?” Hudzaefah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Fitnah seseorang pada keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya, dihapus oleh puasa, shalat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi mungkar.’ Umar berkata, “Bukan itu yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah fitnah yang silih berganti seperti ombak lautan.” Hudzaefah berkata, “Apa urusanmu dengannya wahai Amirul Mukminin? Sesungguhnya antara dirimu dengannya terdapat pintu yang tertutup.” Umar berkata, “Lalu pintu itu dipecahkan atau dibuka?” Hudzaefah menjawab, “Dipecahkan.” Umar berkata, “Hal itu lebih pantas untuk tidak ditutup selama-lamanya.” Maka kami [perawi dari Hudzaefah] bertanya kepada Hudzaefah, “Apakah Umar mengetahui siapa pintu itu?” Hudzaefah menjawab, “Ya, seperti dia mengetahui setelah malam ada siang, saya menyampaikan hadits kepadanya bukan kebohongan.” Perawi dari Hudzaefah berkata, “Kami merasa segan untuk bertanya kepada Hudzaefah siapakah pintu itu? Lalu kami berkata kepada Masruq, ‘Tanyakanlah kepadanya.’ Lalu Masruq bertanya, dan Hudzaefah menjawab, ‘Umar’.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat Muslim, Hudzaefah berkata kepada Umar, “Sesungguhnya antara dirimu dengannya terdapat pintu yang tertutup yang hampir-hampir dipecahkan.” Umar berkata, “Dipecahkan, tidak ada bapak bagimu, mengapa tidak dibuka? Mungkin bisa diatasi.” Hudzaefah berkata, “Tidak, dipecahkan.” Hudzaefah berkata, “Aku juga telah menyampaikan kepada Umar bahwa pintu itu adalah seseorang yang dibunuh atau mati.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dalam hadits yang shahih dari Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Nabi keluar ke salah satu kebun Madinah. Abu Musa lalu menyebutkan hadits yang panjang sampai pada, ‘Lalu datanglah Usman, saya berkata kepadanya, ‘Tetaplah di tempatmu sehingga saya meminta izin kepada Rasulullah untukmu.’ Nabi berkata kepada Abu Musa, ‘Izinkan dia, sampaikan berita gembira kepadanya bahwa dia masuk surga disertai ujian yang menimpanya.” diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Karena itulah Usman menerima dengan penuh kesabaran ketika apa yang dijanjikan oleh Rasulullah telah tiba. Usman meminta para sahabat untuk tidak memerangi orang-orang yang mengacau supaya tidak terjadi pertumpahan darah karena dirinya.
Benarlah kenabian Muhammad. Usman RA terbunuh di tangan sekelompok pembangkang yang mempunyai ambisi politik, agama dan dunia yang dipimpin oleh pimpinan orang-orang Mesir al-Ghafiqi bin Harb al-Akki. Mereka mengepung rumah Usman dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka melompati pagar, membakar pintu. Semua itu terjadi sementara Usman Khalifah yang terfitnah bersumpah kepada Allah agar putra-putra sahabat membuang pedang mereka dan tidak membelanya. Para pembangkang menyerang lalu al-Ghafiqi menusuk Usman yang sedang membaca al-Qur’anul Karim. Kematian Usman terjadi pada 18 Dzul Hijjah 35 H.
Setelah Dzun Nurain Usman terbunuh, kaum muslimin memilih Ali bin Abu Thalib sebagai pemimpin mereka. Ali tidak berkenan, dia ingin menjadi pembantu saja bukan pemimpin, hanya saja para sahabat mendesaknya agar bisa memulihkan kondisi yang kacau balau. Akhirnya Ali menerima, memikul tanggung jawab dalam hempasan fitnah yang besar ini, jika tidak bisa-bisa Madinah dikuasai oleh orang-orang yang membangkang.
Perkaranya semakin ruwet, hal ini membuat sebagian sahabat menyingkir, dan sebagian yang lain tidak membaiat Ali. Syam pada waktu itu dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan tidak membaiat sampai kondisi kembali normal.
Pendapat dan ijtihad kaum muslimin berbeda-beda tentang menuntut balas darah Usman dan menegakkan hukuman qishash kepada para pembangkang yang membunuhnya. Perselisihannya semakin kuat, lalu terjadilah apa yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Perang meletus antara dua saudara yang berselisih yang mengorbankan banyak nyawa seperti yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Inilah awal mula fitnah dan salah satu tanda dekatnya Kiamat. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak dan yang tidak nampak. Wallahu a'lam.
Fitnah pertama dan termasuk paling besar dalam sejarah Islam yaitu fitnah yang telah diberitakan oleh Rasulullah, yaitu terbunuhnya Khalifah Rasyid yang ketiga Usman bin Affan di tangan sekelompok penyeru kejahatan.
Fitnah ini diikuti dengan perpecahan kaum muslimin dan peperangan yang terjadi di antara mereka yang berakibat tertumpahnya darah yang tidak berdosa dari kedua belah pihak yang bertikai. Nabi telah memberitahukan bahwa terjadinya fitnah ini adalah salah satu tanda dekatnya Kiamat.
Dalam hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Tidak datang hari Kiamat sehingga dua golongan besar dari kaum muslimin saling berperang, korbannya besar dari kedua belah pihak. Seruan keduanya adalah satu.” diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Sahabat yang mulia Umar bin al-Khatthab telah menyebutkan bahwa fitnah ini datang bertubi-tubi seperti ombak lautan. Sebagaimana dalam hadits Hudzaefah bin Yaman berkata, Kami berada di sisi Umar bin al-Khatthab. Umar berkata, “Siapa di antara kalian mengetahui hadits Nabi tentang fitnah?” Hudzaefah menjawab, “Saya menghafalnya seperti yang telah beliau sabdakan.” Umar berkata, “Katakanlah, sesungguhnya kamu adalah orang pemberani. Apa yang Nabi sabdakan?” Hudzaefah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Fitnah seseorang pada keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya, dihapus oleh puasa, shalat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi mungkar.’ Umar berkata, “Bukan itu yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah fitnah yang silih berganti seperti ombak lautan.” Hudzaefah berkata, “Apa urusanmu dengannya wahai Amirul Mukminin? Sesungguhnya antara dirimu dengannya terdapat pintu yang tertutup.” Umar berkata, “Lalu pintu itu dipecahkan atau dibuka?” Hudzaefah menjawab, “Dipecahkan.” Umar berkata, “Hal itu lebih pantas untuk tidak ditutup selama-lamanya.” Maka kami [perawi dari Hudzaefah] bertanya kepada Hudzaefah, “Apakah Umar mengetahui siapa pintu itu?” Hudzaefah menjawab, “Ya, seperti dia mengetahui setelah malam ada siang, saya menyampaikan hadits kepadanya bukan kebohongan.” Perawi dari Hudzaefah berkata, “Kami merasa segan untuk bertanya kepada Hudzaefah siapakah pintu itu? Lalu kami berkata kepada Masruq, ‘Tanyakanlah kepadanya.’ Lalu Masruq bertanya, dan Hudzaefah menjawab, ‘Umar’.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat Muslim, Hudzaefah berkata kepada Umar, “Sesungguhnya antara dirimu dengannya terdapat pintu yang tertutup yang hampir-hampir dipecahkan.” Umar berkata, “Dipecahkan, tidak ada bapak bagimu, mengapa tidak dibuka? Mungkin bisa diatasi.” Hudzaefah berkata, “Tidak, dipecahkan.” Hudzaefah berkata, “Aku juga telah menyampaikan kepada Umar bahwa pintu itu adalah seseorang yang dibunuh atau mati.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Dalam hadits yang shahih dari Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Nabi keluar ke salah satu kebun Madinah. Abu Musa lalu menyebutkan hadits yang panjang sampai pada, ‘Lalu datanglah Usman, saya berkata kepadanya, ‘Tetaplah di tempatmu sehingga saya meminta izin kepada Rasulullah untukmu.’ Nabi berkata kepada Abu Musa, ‘Izinkan dia, sampaikan berita gembira kepadanya bahwa dia masuk surga disertai ujian yang menimpanya.” diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Karena itulah Usman menerima dengan penuh kesabaran ketika apa yang dijanjikan oleh Rasulullah telah tiba. Usman meminta para sahabat untuk tidak memerangi orang-orang yang mengacau supaya tidak terjadi pertumpahan darah karena dirinya.
Benarlah kenabian Muhammad. Usman RA terbunuh di tangan sekelompok pembangkang yang mempunyai ambisi politik, agama dan dunia yang dipimpin oleh pimpinan orang-orang Mesir al-Ghafiqi bin Harb al-Akki. Mereka mengepung rumah Usman dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka melompati pagar, membakar pintu. Semua itu terjadi sementara Usman Khalifah yang terfitnah bersumpah kepada Allah agar putra-putra sahabat membuang pedang mereka dan tidak membelanya. Para pembangkang menyerang lalu al-Ghafiqi menusuk Usman yang sedang membaca al-Qur’anul Karim. Kematian Usman terjadi pada 18 Dzul Hijjah 35 H.
Setelah Dzun Nurain Usman terbunuh, kaum muslimin memilih Ali bin Abu Thalib sebagai pemimpin mereka. Ali tidak berkenan, dia ingin menjadi pembantu saja bukan pemimpin, hanya saja para sahabat mendesaknya agar bisa memulihkan kondisi yang kacau balau. Akhirnya Ali menerima, memikul tanggung jawab dalam hempasan fitnah yang besar ini, jika tidak bisa-bisa Madinah dikuasai oleh orang-orang yang membangkang.
Perkaranya semakin ruwet, hal ini membuat sebagian sahabat menyingkir, dan sebagian yang lain tidak membaiat Ali. Syam pada waktu itu dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan tidak membaiat sampai kondisi kembali normal.
Pendapat dan ijtihad kaum muslimin berbeda-beda tentang menuntut balas darah Usman dan menegakkan hukuman qishash kepada para pembangkang yang membunuhnya. Perselisihannya semakin kuat, lalu terjadilah apa yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Perang meletus antara dua saudara yang berselisih yang mengorbankan banyak nyawa seperti yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Inilah awal mula fitnah dan salah satu tanda dekatnya Kiamat. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak dan yang tidak nampak. Wallahu a'lam.
SILATURAHIM TUMBUHKAN CINTA
Silaturrahim Tumbuhkan Cinta
Kamis, 02 Februari 12
Kamis, 02 Februari 12

Nabi juga telah menganjurkan untuk menyambung tali silaturahim, sebagaimana sabda beliau , “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir (kiamat), maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Keutamaan Menyambung Silaturahim
Banyak sekali cara untuk menyambung silaturahim, misalnya dengan saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, berkirim surat, dan segala hal yang telah dikenal manusia dalam menyambung tali silaturahim. Apalagi pada saat sekarang, yakni teknologi telah berkembang dengan pesat, bagitu banyak sarana yang dapat digunakan dalam bersilaturahim, baik via telepon, sms, email, dll. Silaturahim juga merupakan salah satu bentuk sarana untuk masuk ke dalam surga Allah.
Telah disebutkan dalam hadits yang shahih, dari Abu Ayyub al-Anshari, “Bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang dapat memasukkan aku ke dalam Surga dan menjauhkan aku dari Neraka,” maka Nabi bersabda, “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itu pun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi bersabda, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahim.” Setelah orang itu pergi Nabi bersabda, “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, maka pastilah dia masuk ke dalam Surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Silaturahim juga merupakan faktor penyebab banyak rizki dan umur panjang, dalam sunnah beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya (oleh Allah), dan dipanjangkan umurnya (oleh-Nya), maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim.” (HR. al-Bukhari)
Hadits ini seakan-akan kontradiktif dengan firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 34, artinya, “Maka apabila telah datang ajal, mereka tidak dapat mengakhirkannya, tidak pula dapat memajukannya.”
Sebenarnya, tidak ada kontradiksi antara hadits dan ayat di atas, dan bahwa bertambahnya umur seseorang, merupakan kiasan dari berkah umur yang dia jalani selama hidup untuk selalu dalam ketaatan kepada Allah. Dan menggunakan waktu dengan berbagai hal yang dapat mendatangkan manfaat baginya di kehidupan akhirat kelak. Dan menjaga umur supaya tidak hilang sia-sia dengan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
Pada intinya adalah, silaturahim itu merupakan sebab datangnya petunjuk untuk selalu melakukan ketaatan kepada Allah semata, juga merupakan benteng dari perbuatan maksiat; setelah itu datang penyebutan yang indah bagi orang yang mau menyambung silaturahim, seakan-akan dia masih dalam keadaan hidup, seperti halnya orang yang mempunyai ilmu yang bermanfaat dan mengajarkannya pada orang lain, atau orang yang mengeluarkan hartanya untuk shadaqah jariyah, namanya akan selalu dikenang dan disebut oleh banyak orang, walaupun ia telah tiada, seakan-akan masih hidup dan berada di sekitar mereka.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan kehidupan adalah hidupnya hati. Seberapa lama hati itu hidup maka sepanjang itulah umur manusia. Ia tidak lain kecuali waktu-waktu yang digunakan untuk mengingat Allah. Pada saat itulah, takwa dan kebaikan bertambah. Inilah hakikat umur, yang tiada lagi umur selainnya.”
Secara umum, dapat ditarik kesimpulan, bahwa jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan berbagai kemaksiatan, maka sirnalah kehidupan hakikinya yang kelak dia temui. Pelakunya akan merasakan akibat kemaksiatan tersebut pada hari ketika ia mengungkapkan penyesalannya, artinya, “…Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS. al-Fajr: 24)
Nabi juga bersabda, “Ar-rahim itu tergantung di ‘Arsy. Ia berkata:” Barangsiapa menyambungku, maka Allah akan menyambungnya, Dan barangsiapa yang memutusku maka Allah akan memutusnya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Rasulullah juga bersabda, tentang betapa besar ganjaran dari bersilaturahim, dan pahalanya lebih besar dari pahala memerdekakan seorang budak. Dalam sebuah hadits shahih dari Ummul mukminin Maimunah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan seorang budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab: “Iya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak tersebut kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya bagimu.” (HR. al-Bukhari)
Tapi sangat disayangkan, banyak sekali di antara kaum muslimin yang tidak mau menyambung silaturahim kecuali apabila ada kerabat yang menyambungnya terlebih dahulu, yang demikian itu bukanlah silaturahim, akan tetapi hanya membalas kebaikan semata, karena orang yang berakal pasti ingin membalas kebaikan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Orang yang menyambung silaturahim itu bukanlah orang yang menyambung hubungan yang telah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim itu adalah orang yang menyambung hubungan yang telah terputus.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Oleh karena itu, mari kita sambung kembali jalinan persaudaraan yang telah putus dengan silaturahim, semoga kita mendapatkan balasan yang besar dari sisi Allah.
Ancaman Orang Yang Memutus Silaturahim
Allah mengancam bagi siapa saja yang memutus jalinan silaturahim dengan keluarga, maupun kerabat, seperti firman-Nya, artinya, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim (kekeluargaan)? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, dan ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan pengelihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)
Diriwayatkan pula, bahwa Rasulullah mengancam orang yang memutus silaturahim, dengan sabdanya, “Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang suka memutus (tali silaturahim)” (Muttafaqun ‘alaihi)
Renungkanlah ancaman beliau terhadap orang yang memutus silaturahim, kelak dia diharamkan masuk ke dalam surga Allah!. Lalu kemanakah tempat kembalinya pada Hari Pembalasan?Wal ‘iyadzubillah.
Terlebih lagi apabila yang dia putus ialah hubungan silaturahim dengan orang yang paling dekat dengannya, yaitu kedua orangtuanya, ayah ibu yang telah merawat dan mendidiknya sedari kecil, dan hal tersebut masuk ke dalam dosa ‘uququl walidain, dosa yang paling besar, dari dosa-dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidakkah kalian mau aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, maka para sahabat pun menjawab, “Mau wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orangtua.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Demikianlah sekilas keutamaan menyambung tali silaturahim, dan ancaman terhadap orang yang memutusnya. Oleh karena itu, berhati-hatilah dari memutus tali silaturahim. Semoga kita datang pada hari pembalasan dengan membawa pahala silaturahim.
Wallahu A’lam. (Rifki Solehan)
Sumber:
Subulussalam Syarh Bulughul Maram, Muhammad Bin Isma’il ash-Shan’ani.
Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Al-Kabaa’ir, Imam adz-Dzahabi.
KUNCI-KUNCI RIZKI
Artikel Buletin An-Nur :
Kunci-Kunci Rizki
Selasa, 21 Februari 12
Selasa, 21 Februari 12
Sebagian besar manusia, baik yang beriman maupun yang tidak, meyakini bahwa rizki itu di tangan Allah, Dialah yang mengatur, Dialah yang memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dialah pula yang menahan rizki itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Namun, untuk mendapatkan rizki tersebut memerlukan beberapa sebab, baik yang bisa dijangkau maupun yang di luar batas kemampuan akal. Berikut ini, sebagian kunci-kunci rizki yang dipaparkan oleh Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-i al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, amien. Dan, inilah ringkasannya. yaitu;
Istighfar dan Taubat
Beliau mengatakan, “Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).” Allah menyebutkan tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)
Imam al-Qurthubi mengatakan, “Dalam ayat ini, juga dalam surat Hud (ayat: 3-ed) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan” (Tafsir al-Qurthubi, 18/302).
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, maknanya, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan senantiasa menaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu perahan, membanyakkan harta dan anak-anak, menjadikan kebun-kebun dengan bermacam-macam buah-buahan serta mengalirkan sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
Takwa
Takwa menurut Imam Nawawi adalah, ‘menaati Allah dalam hal perintah dan larangan-Nya, maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah.
Beliau mengatakan, “Termasuk sebab turunnya rizki adalah takwa.” Di antara nash yang menunjukkan bahwa takwa termasuk di antara sebab turunnya rizki adalah, firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)
Dalam Ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Artinya, Allah akan menyelamatkannya- sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas- dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat (Tafsir al-Qurthubi, 18/159). Kedua, Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan (Zaadul Masir, 8/291-292)
Bertawakkal Kepada Allah
Tawakal menurut Imam al-Ghazali adalah, ‘Penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ‘ditawakkali’) semata.’
Beliau mengatakan, “Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah.” Rasulullah bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, di dalam al-Musnad, no. 205)
Beribadah kepada Allah sepenuhnya
Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.” Yakni, hendaklah seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasakan kedekatan ketika sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni, beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Hendaklah, kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda, “Tuhan kalian berfirman, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.”(HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Syaikh Albani menshahihkannya dalam Silsilatul Ahadits ash-Shahihah)
Silaturrahim
Beliau mengatakan, “Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim.” Rasulullah bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.” (HR. al-Bukhari, no.5985)
Berinfak di Jalan Allah
Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah.”
Allah berfirman, artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “Wahai anak adam, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu.”(HR. Muslim)
Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari’at (Agama)
Beliau mengatakan, “Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama).” Anas bin Malik mengatakan, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah. Salah seorang darinya mendatangi Nabi (yakni: untuk mencari ilmu dan pengetahuan-ed) dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu, saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi maka beliau bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” (HR. at-Tirmidzi, no.2448)
Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah
Beliau mengatakan, “Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin.” Rasulullah bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. al-Bukhari, no.108)
Hijrah di Jalan Allah
Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (QS. an-Nisa: 100)
Saudaraku…Demikian paparan Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dalam mencari karunianya dengan meniti jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah dan yang telah diterangkan oleh nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallohu 'alaihi wasallam. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Muhammad, keluarga, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amien. wallahu a’lam (Redaksi)
[Sumber: “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah” , edisi Indonesia “Kunci-Kunci Rizki Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah”, Dr. Fadl Ilahi, Darul Haq, Jakarta.]
Senin, 13 Februari 2012
Wise World
Assalamualaikum
Warohmatullohi Wabarokatuhu….
Sahabatku fillah, kita mulai
forum kita pada kesempatan kali ini dengan ,, BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIM…
Dear Allohu Ya
Adzim!!!
Dengan
menyebut asma Mu Yaa Allah dengan segenap rasa yang ada dalam jiwa ini..
Dengan
seluruh kerinduanku yang telah meluap dan akan senantiasa menjunjung asma Mu…
Dengan
seluruh cintaku pada Mu cinta seorang hamba yang akan selalu menghamba dan
mendamba pada Mu…
Cinta
hamba yang tak akan pernah usai…
Cinta
yang akan hamba berikan padaMu Yang Maha Tinggi Maha Pemberi kepada hamba Mu
Cinta
kepada yang Maha Cinta Yang CintaNya diatas seluruh Cinta
Cinta
yangakan terus mengalir dan senantiasa ada di hati di jiwa di setiap tetes
darah hamba di setiap peluh di manapun hamba kan mengijakkan kaki di setiap
bangun dan usaha hamba dalam tidur hamba
dan di seluruh hidup hamba hingga akhir kan datang menjemputku Yaa Tuhan ku….
Langganan:
Postingan (Atom)

